Chairil Anwar menghembuskan nafas terakhirnya pada 28 April 1949. Ia meninggal dalam usia 27 tahun di RS Cipto Mangunkusumo. 28 April 1949 akibat mengidap berbagai penyakit. Untuk mengenang karya-karyanya, hari kematiannya diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Sebelum meninggal, pada tahun 1949 tersebut, Chairil Anwar menghasilkan enam puisi.
Berdasarkan analisis ini dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu: (1) Pemanfaatan atau pemilihan bunyi-bunyi bahasa yang dipergunakan dalam Puisi Kerikil tajam dan yang Terampas dan yang Putus karya Chairil Anwar, ditemukan adanya asonansi ‘persamaan bunyi vokal’ yang banyak dipakai bunyi a, i, u, e, o.
Berikut ini analisis lapis bunyi dalam puisi “Sebuah kamar” karya Chairil Anwar. Sebuah jendela menyerahkan kamar ini Pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam mau lebih banyak tahu. “Sudah lima anak bernyawa di sini, Aku salah satunya!” Dalam bait pertama terdapat Asonasi bunyi a dan u; aku, salah, satunya, dan ada bunyi sengau m, ng.
Saking seringnya Thukul --yang dulu bernama Widji Widodo-- menjerit-jerit “Aku mau hidup seribu tahun lagi,” Suparno yakin betul Aku adalah puisi favorit dia. Maka pujangga Chairil Anwar yang lahir 41 tahun sebelum Thukul, dan wafat 14 tahun sebelum Thukul lahir, menjadi salah satu sumber inspirasi Thukul --yang kemudian tumbuh menjadi
Chairil Anwar, pelopor Angkatan 45 yang terkenal dengan puisi Aku dan tanggal wafatnya diperingati sebagai Hari Puisi Nasional di Indonesia.| Kemdikbud via Kompas.com Oleh: Suyito Basuki Renne Welek dan Austin Waren, dalam Theory of Literature (Terjemahan Noer Tugiman, 1970, h.
. 124 192 496 298 395 330 225 299
analisis puisi aku chairil anwar